Aku masih berdiri di balik jendela kamarku. Memandangi langit malam
yang tak bertuan. Entah kapan terakhir kali ku lihat gemintang
berkelap-kerlip nakal di atas sana. Purnama kesepian, seperti jua aku.
Melewati malam dengan tangisan.
Aku masih berdiri di sana, ketika kau singgah di beranda mataku, lalu
mengetuk pintu hatiku. Saat itu aku masih ragu, terlalu sibuk bergelut
dengan sedih yang bergelayut di dadaku. Limbung...
Engkau hadir sebagai malam. Yang mendekapku ketika lelah, yang
menemani saat-saat dimana aku mencurahkan kesedihanku. Saat aku tak
henti merutuki ketidakhadiran bintang-bintang di malamku. Katamu saat
itu...
Ciptakan gemintang di hatimu, malam tidak lagi sekedar menyuguhkan hitam seperti yang kau tahu.
Tak sedikitpun aku mengerti maksudmu. Lalu, sebelum aku memahamimu,
engkau hadir sebagai mentari yang menyapa pagiku setiap hari. Memaksaku
melangkah dan kembali tersenyum di sela duka yang masih jua menyesakkan
dadaku. Dan hujan kala itu selalu mengingatkanku akan ucapmu...
Rinai hujan itu kesedihan di hatimu, maka aku hadir di sini sebagai matahari, bersama-sama kita memulas warna pelangi.
Aah... pelangi, rasanya sudah lama sekali aku tak menjumpainya. Tapi
denganmu, seolah dunia selalu terlihat bercahaya juga berwarna.
Aku masih berdiri di sini, di balik jendela kamarku. Menyapamu
sebagai malam yang selalu setia menemani sepiku, mendekap lelahku,
menghitung gemintang yang kini berkerlip riang di hatiku.
Dan kau berdiri di sana, di balik jendela kamarmu. Menyapaku sebagai
senyum mentari. Menangkapi bulir-bulir hujan pagi itu. Lalu bersama,
kita melukis warna, membangun lengkung pelangi yang sempurna.
Menjembatani aku dan kamu.
No comments:
Post a Comment