Tuesday, February 21, 2012

masih ... tentang semburat berwarna-warni

Aku masih berdiri di balik jendela kamarku. Memandangi langit malam yang tak bertuan. Entah kapan terakhir kali ku lihat gemintang berkelap-kerlip nakal di atas sana. Purnama kesepian, seperti jua aku. Melewati malam dengan tangisan.
Aku masih berdiri di sana, ketika kau singgah di beranda mataku, lalu mengetuk pintu hatiku. Saat itu aku masih ragu, terlalu sibuk bergelut dengan sedih yang bergelayut di dadaku. Limbung...
Engkau hadir sebagai malam. Yang mendekapku ketika lelah, yang menemani saat-saat dimana aku mencurahkan kesedihanku. Saat aku tak henti merutuki ketidakhadiran bintang-bintang di malamku. Katamu saat itu...
Ciptakan gemintang di hatimu, malam tidak lagi sekedar menyuguhkan hitam seperti yang kau tahu.
Tak sedikitpun aku mengerti maksudmu. Lalu, sebelum aku memahamimu, engkau hadir sebagai mentari yang menyapa pagiku setiap hari. Memaksaku melangkah dan kembali tersenyum di sela duka yang masih jua menyesakkan dadaku. Dan hujan kala itu selalu mengingatkanku akan ucapmu...
Rinai hujan itu kesedihan di hatimu, maka aku hadir di sini sebagai matahari, bersama-sama kita memulas warna pelangi.
Aah... pelangi, rasanya sudah lama sekali aku tak menjumpainya. Tapi denganmu, seolah dunia selalu terlihat bercahaya juga berwarna.
Aku masih berdiri di sini, di balik jendela kamarku. Menyapamu sebagai malam yang selalu setia menemani sepiku, mendekap lelahku, menghitung gemintang yang kini berkerlip riang di hatiku.
Dan kau berdiri di sana, di balik jendela kamarmu. Menyapaku sebagai senyum mentari. Menangkapi bulir-bulir hujan pagi itu. Lalu bersama, kita melukis warna, membangun lengkung pelangi yang sempurna. Menjembatani aku dan kamu.

No comments:

Post a Comment