comments yang bikin gw tercengang pas di awal sebelum gw baca: "Perahu Kertas membuat kertas menjadi istimewa karena alurnya yang menyentuh hati dan menyadarkan bahwa hidup adalah tidak hanya satu warna saja ..."
oke mulai ke bagian penggalan kalimat-kalimat yang sangat bikin gw terharu :
- Saat ayam berkokok dari kejauhan, Keenan baru berhenti. Tersadar bahwa baru kali itulah ia menggambar begitu banyak untuk seseorang yang baru dikenalnya tadi sore.
- Meski tempat mereka berdiri sangat berisik, Kugy dapat mendengar Keenan berbisik di sela-sela rambutnya yang berkibar ditiup angin. Entah Keenan berbisik untuknya, untuk dirinya sendiri, atau untuk mereka berdua. Namun, dengan jelas Kugy menangkap tiga kata yang dibisikkan Keenan: "Bulan, perjalanan, kita..."
- "Aku tahu!" seru Kugy, "Sesuatu yang nggak boleh dibeli."
"Jadi dicuri?"
Kugy tergelak, "Bukan. Sesuatu yang harus dibikin."
"Oke," Keenan tersenyum, "Saya janji."
- "Di sini kan lebih awal sejam, dan sebentar lagi udah mau jam 12. Jadi ... selamat tahun baru, ya, Kecil. Jangan cepet gede, nanti nggak seru lagi."
Entah mengapa, omongan Keenan yang setengah bercanda itu malah membuat Kugy terharu. "Makasih. Selamat tahun baru juga," ucapnya setelah menelan ludah terlebih dahulu.
- "Beli popcorn, yuk," Wanda tahu-tahu menggamit tangannya, dan mereka berdua berjalan menuju mesin popcorn di dekat sana.
Keenan seolah terhempas ke lorong waktu. Semua ini terasa seperti dejavu. Ia mengenal adegan ini. Malam minggu, tempat yang sama, mesin popcorn yang sama. Bedanya, orang yang bergandengan dengan tangannya waktu itu adalah Kugy.
- "Kalo aku jadi cowok ..., bego banget kalo nggak suka sama Wanda ...," gumam Kugy.
"Mungkin aja cowok sebego itu ada," gumam Keenan balik.
Darah Kugy terasa berdesir. Ada yang melonjak dalam hatinya. "Jadi ... kamu -"
- "Saya kehilangan kamu," ucap Keenan akhirnya, nyaris berbisik.
Kugy merasa matanya akan berkaca-kaca, seiring dengan arus perasaan yang begitu kuat, yang seolah hendak menjebol dadanya. Dan, sungguh, ia tidak tahu harus merespons apa. Sorot mata Keenan seperti merenggut semua perbendaharaan kata di benaknya. Akhirnya, Kugy memilih untuk menunduk.
- Bahkan untuk menyalakan lampu saja, Kugy tak punya daya. Dalam gelap, ia berdiri mematung. Terlintas jelas di kepalanya sore hari di Galeri Warsita, saat Keenan dan ia sama-sama memandangi Wanda dari kejauhan, dan terdengar jelas di kupingnya waktu itu, apa yang diucapkan Keenan ... Kugy menggeleng, barangkali waktu itu ia salah menangkap, atau ia salah berharap ... melintas jelas di kepalanya siang hari di bawah pohon beringin dekat ladang cabe, saat Keenan berkata bahwa ia kehilangan dirinya, Kugy takkan lupa cara Keenan menatapnya ... Kugy pun menggeleng, barangkali waktu itu ia salah melihat, atau lagi-lagi salah berharap. Dan terlintaslah petang di pintu gerbang, saat ia mendapatkan dirinya dipeluk, degup jantung yang terasa berdenyut bersama .... Kugy pun menggeleng, barangkali waktu itu ia salah. Selama ini ia salah.
Terakhir, ingatannya berlabuh pada bisikan Keenan yang ia simpan, yang ia kenang hampir setiap malam. Tiga kata yang selalu menjadi penyejuk bagi hatinya. Bulan, perjalanan, kita. Kugy menggeleng lagi. Bulan yang sama ada di angkasa malam ini. Namun, rasanya lain sekali. Membayangkannya saja terasa begitu pedih di mata. Kugy mengusap matanya yang basah. Sekali. Dua kali. Dan berapa kalipun ia mengusap, air mata itu tak kunjung berhenti mengalir.
- Tanpa menunggu terlalu lama, pembicaraan mereka lancar lagi seperti aliran sungai. Dan walau akhirnya percakapan telepon itu ditutup dengan manis, Wanda sedikit gondok. Ia mulai terganggu dengan sikap Keenan yang seolah jengah setiap kali percakapan mereka mulai menyinggung soal perasaan. Seolah-olah kata "cinta" dan "sayang" ada dalam daftar tabu Keenan. Dari pertama kali mereka dekat hingga resmi jadian pun, belum pernah satu kali pun Keenan mengungkapkan perasaannya secara terbuka.
- "Gy, Mas Itok itu mungkin orang paling sok tahu sedunia, tapi aku yakin dia punya alasan sampai bisa bilang begitu. Memangnya ada apa antara kamu dan Keenan?"
Kugy diam sejenak. "Nggak ada apa-apa," jawabnya pendek.
Ojos menggeleng. "Gue mungkin orang paling cemburuan di dunia, tapi radar gue nggak pernah salah. Udah, deh. Jujur aja. Lo suka sama dia, kan? Dia juga suka sama lo?"
Hati Kugy terasa menciut. Kalau Ojos sudah mulai memakai 'gue-lo' padanya, berarti anak itu marah betulan. "Jos, Keenan udah punya pacar. Aku juga udah punya pacar. Kami berdua cuma sahabatan. Nggak lebih, nggak kurang."
"Suka ya suka aja. Nggak ada urusan punya pacar atau nggak," tandas Ojos lagi.
- Terdengar Ojos menghela nafas berat. "Gue capek jadi nomor kesekian dalam hidup lo. Sejak lo di Bandung, gue ngerasa makin terpinggir. Lo kaya punya dunia sendiri. Kayaknya cuma gue yang usaha buat ngertiin lo, Gy. Cuma gue yang usaha buat kita berdua."
Mata Kugy mulai terasa panas. Dadanya mulai terasa sesak.
"Dari pertama kita jadian, gue selalu berusaha ngejar dunia lo. Tapi lo, bukan cuma lari, lo tuh terbang. Dan lo suka lupa, gue masih di Bumi. Kaki gue masih di tanah. Gimana kita bisa terus jalan kalo tempat kita berpijak aja beda." tukas Ojos getir.
- Setengah dari dirinya pun takjub dan terpana. Baru kali itu ia menyadari betapa dalam perasaannya untuk Keenan dan betapa jauh hatinya telah jatuh. Dan sebagai kesimpulan, Kugy tahu bahwa ia akhirnya memilih tidak pergi.
- "Kamu bisa beli lukisan-lukisan ini, Wanda," desis Keenan sambil membuka pintu, "Tapi kamu nggak akan pernah bisa membeli saya." Dipanggulnya keempat lukisan itu, berjalan pergi dan tak menoleh lagi.
- Keenan tersenyum. Ada kehangatan yang seketika memenuhi rongga hatinya melihat tawa lebar Kugy yang khas. Keenan menamakannya "tawa pengampun", karena layaknya matahari yang tak menyimpan memori ataupun dendam dan senantiasa memandikan Bumi dengan sinarnya, tawa itu pun membawa efek yang sama bagi dirinya. Kehangatan yang lahir tanpa pretensi. Tanpa perlu usaha. Pengampunan murni.
Setelah Keenan mendekat, barulah Kugy menyadari perubahan yang terjadi. Keenan tampak lebih kurus. Dan kedua matanya menunjukkan bahwa ia lelah. Kugy pun menyadari, perubahan yang sama juga terjadi pada dirinya sendiri.
"Apa kabar, Kecil?" sapa Keenan. "Kamu kok tambah kecil..."
"Pemadam Kelaparan baru naikin harga soalnya, jadi asupan makanan ke badanku agak berkurang," Kugy terkekeh. "Kamu juga kurusan. Kamu baik-baik?"
Keenan mengangkat bahu sambil nyengir. "Lumayan" jawabnya singkat.
- Sendirian di kamarnya, Kugy mulai menulis seperti orang kesetanan. Malam itu ia berniat menumpahkan semuanya dalam lembaran-lembaran kertas kosong. Dalam sekejap, bidang petak putih itu terisi penuh oleh tulisan tangannya. Sambil menulis, tak jarang air matanya ikut terselinap, meninggalkan jejak-jejak tinta yang yang memecah di atas kertas. Kugy tak tahu itu air mata sedih atau marah, dan ia tak lagi peduli.
Baru pada lembar ketiga, kecepatan menulisnya mulai melambat. Perasaan yang tadi campur aduk mulai menunjukkan wajah aslinya. Seharusnya ia bersukacita saat tahu hubungan Keenan dan Wanda usai. Seharusnya ia lega ketika tahu Keenan tidak jadi pindah di Jakarta dan meninggalkan dirinya gara-gara harus mempromosikan lukisan. Tapi ternyata tidak. Kugy pun tersadar, inilah patah hati yang sesungguhnya. Hatinya pernah hancur ketika tahu Keenan harus bersama orang lain, tapi hatinya baru benar-benar patah ketika tahu bahwa Keenan bukanlah sosok yang selama ini ia cinta.
Pada lembar ketiganya, Kugy mulai menangis sedih. Tidak banyak lagi yang ia tulis. Hanya beberapa baris penyesalan. Kugy menyadari, selama ini ia telah menciptakan sendiri ilusi tentang Keenan dan mencintai ilusi itu. Kenyataannya, Keenan rapuh dan lemah.
- Setelah merasa berada di jarak aman, barulah Kugy berhenti dan mendekat ke tepi kali. Dari dalam ranselnya, ia mengeluarkan tiga perahu kertas. Tak ada saluran lain, tak ada teman bicara lain ... hanya Neptunus, batinnya.
- "Non ...," ucapnya pelan setelah sekian lama hening, "kamu tahu nggak, kijang yang larinya cepat kaya kilat, bisa beku kaya patung kalau ketemu singa ...."
"Kamu nggak nyambung!"
"Maksudku, saking ketakutannya kijang itu sama singa, dia malah kehilangan kemampuannya untuk lari. Dia malah nggak bisa gerak sama sekali."
"Terus ... hubungannya apa dengan aku?"
"Pernah nggak kamu kepikir, saking merasa bersalahnya Kugy sama kamu, dia kayak kijang itu. Dia malah nggak bisa ngapa-ngapain. Dia jadi kaku, diam, dan menutup diri, bukan karena dia yang kepingin. Tapi itu refleks yang nggak bisa dia lawan, saking merasa salah sama kamu. Dia jadi takut ngedeketin kamu."
- "Kalau Keenan sudah dapat 'jodoh'-nya, pasti tangannya langsung lancar. Dan lukisannya dari hari ke hari akan semakin bagus."
Keenan melongo. "Jodoh?"
"Setiap pelukis pasti memiliki 'jodoh'-nya masing-masing. Kalau mereka mau bertekun sekaligus berserah, pasti mereka akan menemukannya. Jadi, Keenan jangan cepat putus asa. Kadang-kadang kanvas kosong juga bersuara. Tanpa kekosongan, siapapun tidak akan bisa memulai sesuatu," lanjut Luhde lagi.
- Luhde tak langsung merespons. Ia mendekati kanvas kosong di hadapan Keenan. "Ini ... anggaplah ini langit ..." katanya seraya menyentuhkan jemarinya di kanvas, "sepertinya langit ini kosong. Tapi kita tahu, langit tidak pernah kosong. Ada banyak bintang. Bahkan tidak terhingga banyaknya. Keenan harus percaya itu. Langit ini cuma tertutup awan. Kalau Keenan bisa menyibak awan-awan itu, Keenan akan menemukan banyak sekali bintang. Dan dari sekian banyak bintang, akan ada satu yang berjodoh dengan kita.
- Ia bercerira soal keluh-kesahnya, keresahan batinnya, dan kerinduannya pada semua yang dulu begitu indah. Termasuk kerinduannya pada Keenan.
Satu perahu kertas terlipat di dalam kantongnya. Akan ia apungkan di kali nanti sebelum pergi ke kampus. Andai perahu itu dibuka, maka hanya akan terbaca satu paragraf pendek:
Neptunus, semua nelayang yang sedang mencari arah akan diberi petunjuk oleh bintang di langit. Semoga dia menemukan bintangnya dan kembali menemukan jalannya pulang.
- Dari teras rumah utama, Luhde diam mengamati bale itu.
"Poyan ...," bisiknya pada Pak Wayan.
"Dia luar biasa berbakat, ya. Lukanya juga mulai sembuh. Dia mulai kembali seperti Keenan yang dulu," komentar Pak Wayan, seolah mengetahui arah pikiran Luhde.
Luhde tersenyum menatap pamannya. Wajahnya berseri-seri. "Keenan sudah menemukan bintangnya."
- "Kenapa ngintip? Naksir sama tamu tadi, ya?" goda Keenan.
"Ng ... nggak!" bantah Luhde, panik.
"Eh benar itu si Keenan. Nanti kalau kamu cari jodoh, cari yang seperti itu. Ganteng, sukses, masih muda ... cinta seni lagi!" celetuk Pak Wayan sambil terbahak. "Jangan mau sama kayak kita-kita ini. Kantongnya sakit asma, napasnya satu-satu!"
Wajah Luhde kian merah jambu. Dalam hatinya, ia sama sekali tidak sepakat dengan pamannya.
- Ubud, malam tahun baru 2001
Keenan melirik jam di layar ponselnya. Lima menit sebelum pergantian tahun. Suara di belakangnya makin ingar-bingar, berlomba dengan suara ombak yang terdengar dari depan. Jempolnya bergerak, mencari satu nama itu. Dan begitu nama itu muncul di layar, ia tertegun sendiri. Batinnya menyapa spontan: Apa kabar kamu, Kecil?
Mendadak Keenan gelisah. Ia tidak yakin apakah nomor itu masih berlaku. Namun, entah mengapa, ada desakan kuat untuk ... ia memencet tombol hijau bergambar simbol telepon ... connecting. Keenan mengamati lekat satu kata itu berkedip dan berpendar di layarnya. Bisakah ia berbicara? Sanggupkah ia ....? Tidak. Keenan memejamkan mata, jempolnya memencet tombol merah. Disconnecting.
- "Saya ingin, satu karya Keenan yang dibuat dengan sepenuh hati," ucap Luhde. Jernih dan jelas.
Keenan terenyak. Pertama, oleh kecantikan Luhde yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Dan kedua, oleh kalimat yang meski ia pahami betul maksudnya, rasanya tak sanggup ia penuhi. Keenan menelan ludah. "Semua lukisan saya dibuat dengan sepenuh hati. Kalau kamu menginginkan salah satu di antaranya, kamu boleh pilih yang mana aja. Atau kalau kamu mau dibuatkan khusus, saya juga bersedia melukis untuk kamu."
Luhde menggeleng lembut. "Semua lukisan itu dibuat dengan cinta Keenan pada seni. Tapi ada satu yang berbeda. Begitu saya melihatnya, saya sampai menitikkan air mata. Yang satu itu ... indah sekali. Dan dia menjadi indah karena Keenan membuatnya dengan cinta yang lebih dalam dari sekedar cinta Keenan pada seni."
- Keenan duduk sendirian dengan posisi menengadah. Ia ingin mengenang malam-malam seperti ini, saat ia berbaring di atap kamarnya di Bandung, menikmati jernih dan luasnya angkasa, memikirkan orang yang sama.
Di tangannya tergenggam sebuah pahatan kayu sebesar genggaman tangan. Sesuatu yang ia buat setahun lebih yang lalu. Sesuatu yang tak pernah ia sempat berikan. Sesuatu yang ia bersihkan hampir setiap hari, tapi cuma bisa di nikmati sendiri. Pahatan itu berbentuk hati yang dipenuhi relief abstrak menyerupai gelombang air di seluruh permukaannya. Begitu rapi dan detail. Ketika membuatnya, leher Keenan sampai sakit selama satu minggu. Ia tersenyum sendirian mengingatnya.
Diamati dan dirabanya lagi relief itu. Di antara motif gelombang air tadi, tersembunyilah dua inisial yang kalau diamati dengan saksama baru terbaca: K & K.
Nada terakhirnya menggantung di udara. Menyisakan suara bambu dan suara-suara dalam kepalanya. Keenan teringat kata-kata Luhde. Kenangan hanyalah hantu di sudut pikir. Dan selama ini, ia telah memelihara sebuah cinta pada kenangan, pada wujud yang tak lebih dari bayangan, sekalipun Kugy adalah bayangan terindah yang pernah hidup dalam hatinya.
Keenan memejamkan mata. Meresapi perih yang merasuki sel tubuh. Namun, ia pun tahu, sudah saatnya ia melepaskan bayangan itu. Keenan mengecup pelan pahatannya. "Kecil ... mungkin ini memang bukan untuk kamu," bisiknya. Baru sekali itu Keenan merasakan perpisahan yang dilakukan sendirian.
- Dengan gerakan serba lambat karena tak ingin menimbulkan suara, Keenan meletakkan pahatan kayu tadi di sebelah Luhde, lalu berkata lirih, "Selamat ulang tahun ....."
- "Akan ada satu saat kamu akan bertanya: pergi ke mana semua inspirasiku? Tiba-tiba kamu merasa ditinggal pergi. Hanya bisa diam, tidak lagi berkarya. Kering. Tapi tidak selalu itu berarti kamu harus mencari objek atau sumber inspirasi baru. Sama seperti jodoh, Nan. Kalau punya masalah, tidak berarti harus cari pacar baru, kan? Tapi rasa cinta kamu yang harus diperbarui. Cinta bisa tumbuh sendiri, tapi bukan jaminan bakal langgeng selamanya, apalagi kalau tidak dipelihara. Mengerti kamu?"
- Namun, di hadapannya terletak secarik kertas dan pulpen. Hanya saja bukan untuk resolusi. Setelah sekian lama merenung, Kugy pun menyambar pulpen dan mulai menulis:
Neptunus, kali ini saya benar-benar berharap surat ini betulan sampai ke laut. Kenapa begitu? Karena saya kepingin jujur: saya kangen sekali. Saya kehilangan sekali. Dan, saya merasa, malam ini dia dekat sekali dengan laut. Titip salam, ya. Awas kalo nggak disampein. Saya mogok jadi agen.
Kugy melipat kertas itu menjadi perahu. Baru siang nanti ia bisa menghanyutkannya di kali dekat rumah. Khusus untuk malam ini, ia harus memikirkan cara lain. Kugy lalu mendekapkan surat itu di dadanya. Memejamkan mata. Mengkhayalkan bentangan laut luas dan suara ombak. Ia pernah bilang pada Keenan, suara ombak adalah lagu alam yang paling merdu. Dan Kugy merasa mendengar ombak bersahutan.
Di mana pun kamu ... semoga pesan ini sampai, meski tanpa perahu ... aku sangat kehilangan kamu.
- Di tepi pantai, Keenan melamun menatap ombak laut. Menyadari bahwa akan selalu ada saat di mana ia merasa harus berhenti, memikirkan sosok satu itu.
Kamu pasti senang sekali kalau bisa disini ... dekat dengan laut ... kamu pernah bilang, suara ombak adalah lagu alam yang paling merdu. Napas Keenan menghela panjang. Sedang apa kamu sekarang, Kecil?
- "Hati-hati, De. Pelan-pelan. Jatuh sedikit-sedikit, jangan sekaligus. Belajar dari pengalaman pamanmu sendiri ..." ujar Pak Wayan lembut. Namun, senyum samar di wajahnya itu terlihat getir.
Perlahan, Luhde mengangguk. Ia tahu kisah yang dimaksud pamannya.
"Tidak mudah menjadi bayang-bayang orang lain. Lebih baik, tunggu sampai hatinya sembuh dan memutuskan dalam keadaan jernih. Tanpa bayang-bayang siapapun," lanjut Pak Wayan lagi. Ditepuknya bahu Luhde pelan, lalu beranjak pergi dari sana.
- Tiba-tiba Remi menahannya, "Gy, bentar. Titip ini, ya," katanya sambil menyerahkan perahu kertas yang tadi ia lipat di restoran.
"Ini buat apa?" tanya Kugy heran.
"Buat kamu hanyutkan besok. Saya ingin kirim pesan buat Neptunus," Remi menjawab halus, diikuti sorot mata yang menghangat.
- Memandangi mobil itu melaju hingga hilang di tikungan jalan. Tanpa menunggu lebih lama, dibukanya lipatan-lipatan perahu kertas itu, membaca tulisan Remi yang tertera di bagian belakang pamflet restoran, diperbantukan penerangan lampu jalan:
Makasih sudah mengirimkan agen Kugy ke kantor saya, dan membuat malam ini menjadi malam yang sangat menyenangkan. Saya nggak kepingin-kepingin amat kok jadi agen, saya lebih kepingin ditemani makan lagi sama agen kamu yang satu itu. Mudah-mudahan dia mau.
- "Saya lebih senang, kalau kamu nggak nyadar. Kamu bisa menjadi diri sendiri, saya juga. Dan menurut saya itulah yang paling menyenangkan dari pertemuan kita selama ini," kata Remi lembut.
Kugy menelan ludah. "Setuju, menjadi diri sendiri itu memang yang paling enak," ia menyahut sekenanya.
Sambil menyeruput teh panas, Remi pun berkata ringan, "Mereka yang justru nggak tahu betapa berharganya kesempatan ini buat saya."
*hahaha ntar disambung lagi, terakhir sampai halaman 277. :D coming soon!