Tuesday, March 11, 2014

Psikologi Industri #1

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh :) Bismillahirrahmanirrahim …

Bentar, saya mau bebersih blog ini dulu udah banyak sarang laba-laba gini dimana-mana atuhlah. Terakhir saya bersihin pas Bung Karno diasingkan ke Rengasdengklok. :(( Oke skip.

Tanpa perlu berpanjang lebar kali tinggi sama dengan volume balok, nama saya Ismi Sakinah, saya baru duduk dari tadi di Semester 2 Jurusan Teknik Industri – Universitas Pancasila, nah pertemuan saya pertama dengan Matkul Psikologi Industri ini pas tanggal 11 Maret 2014, namanya juga pertemuan pertama ya, pasti poin pertama adalah Perkenalan, dimulailah perkenalan dari dosen saya Pak Seta Nugraha Wicaksana atau kita bisa panggil Pak Seta. ((( Kita? ))) Iya maksudnya kepada seluruh pembaca yang berbahagia yang turut serta mensukseskan postingan ini. Halah.

Pendahuluan pun dimulai dengan cerita pengalaman Pak Seta dalam proses mencari cita sampai mencari wanita, maaf maksud saya mencari cinta. :p Seru sekali dalam memaparkan hal tersebut karena saya kagum dan salut dengan perjuangan Pak Seta dalam umur yang muda memiliki pengalaman pekerjaan yang menghasilkan pendapatan yang benar-benar dikatakan sudah berada di zona nyaman, kemudian kita dihadapkan pada tujuan kita sendiri dalam memperoleh gelar Strata 1 atau S1 yang diceritakan Pak Seta dalam dunia Industri minimal akan menjadi Supervisor. Dan bahkan bisa meningkat ke jenjang lainnya asal kita mau terus belajar, belajar dan belajar, karena kata Beliau tak akan ada proses belajar yang sia-sia selama kita mendalami ilmu yang bermanfaat. Jika Roma katanya tidak dibangun dalam waktu sehari, maka 7 Keajaiban di Dunia yang ada di Indonesia sendiri pun yaitu Candi Borobudur juga tidak dibangun dalam waktu sehari.

Pertama kali di benak saya, Psikologi Industri. Hmm. (--, ) Psikologi itu berasal dari bahasa Latin, “Psyche” = Jiwa dan “Logos” = Ilmu Pengetahuan, sehingga dapat diartikan sebagai studi tentang perilaku individu (jiwa) dalam aspek-aspek kehidupan. Kemudian, Industri sendiri adalah cakupan luas tentang dunia kerja, baik dalam skala kecil, menengah, maupun besar. Jadi Psikologi Industri adalah Studi tentang perilaku manusia dalam aspek-aspek kehidupan yang berhubungan dengan industri atau dunia kerja. Salah satu tujuan dari Psikologi Industri itu sendiri adalah untuk meminimalisi permasalahan yang mungkin timbul dalam suatu individu atau organisasi, dalam upayanya untuk mencapai tujuannya.

Dan ternyata cakupan itu semakin luas lagi, saya dikenalkan kepada pola pikir lain di dalam Psikologi Industri selain Sumber Daya Manusia itu sendiri, tentunya. Yaitu tentang Sistem! Ya, keduanya (Sistem dan Manusia) itu sendiri saling terkait dalam suatu Perusahaan. Dalam Sistem dan Manusia itu sendiri, ada yang namanya Organisasi. Organisasi dengan berbekal Misi yang berbeda-beda di tiap Perusahaan pasti mempunyai Visi atau Tujuan yang sama dan memiliki struktur serta tindakan dalam manajemen sistem. Sehingga dapat disimpulkan manusia dan sistem itu saling melengkapi lalu ketika ada sistem dan struktur dengan manajemen yang baik, kita sebagai manusia wajib melakukan tindakan untuk mencapai tujuan organisasi tersebut.


Kita sebagai Manusia di dalamnya minimal harus paham dan mengerti visi misi perusahaan kita sendiri, karena itu erat sekali kaitannya dengan komitmen yang ada pada diri kita untuk menentukan tercapainya suatu kesinambungan pada sistem yang telah dibuat oleh perusahaan. Karena sering kita jumpai, banyak yang tak tahu apa visi misi perusahaannya (Alhamdulillah saya hapal dan ngerti, Pak soalnya sering ditanya pas Audit hehe :p ) karena fokus dengan pekerjaan yang diberikan atau ditugaskan saja. Menurut Pak Seta, itu lumrah terjadi hampir di setiap Perusahaan Asing yang menerapkan sesuai sistem, dan manusia di dalamnya hanya langsung turut serta meneruskan sistem yang telah berjalan. Karena kita sudah sebagian besar terpengaruh budaya barat atau budaya asing. Sebagai contoh, apa kata dasar atau istilah Bahasa Indonesia yang tepat dari Commitment dan Integrity? Komitmen dan Integritas, bukan? Ya, karena itu kata serapan dari bahasa asing.  Kemudian, berhubungan dengan bahasa asing, kita semua dibawa ke dalam pertanyaan singkat namun membutuhkan pendalaman yang tinggi. “Apakah Belanda menjajah bangsa Indonesia?” Jawaban kami di dalam kelas pun beragam. “Ya!” “Hmm.” “Menjajah apa Dijajah ya? Hmm” “Dijajah lah!” “Kalo aku sih yes, gak tau deh Mas Anang gimana.” Sampai akhirnya “Maaf mas, mbak kalo masih lama pertanyaan akan saya lempar ke Tim Dut.” Wooh okaaay, serius ah. Kemudian dengan banyaknya spekulasi yang muncul, saya menjawab, “Enggak, Pak. Justru sebenernya kita yang dijajah Belanda.” Dan jawaban saya pun dibenarkan oleh beliau, iya karena Belanda sebenarnya terang-terangan tidak mengakui menjajah secara langsung, karena pada awalnya tujuannya hanya berdagang dikarenakan sumber daya alam Indonesia yang melimpah. Kemudian dari proses interaksi berdagang itu lah, Raja-raja dari seluruh Kerajaan Indonesia melakukan kerjasama terhadap Belanda, seperti belajar berdagang, mengenyam pendidikan, belajar bersenjata, membeli alat persenjataan, dan lain-lainnya yang dirasakan oleh Belanda saat itu hanya sebuah Proses Mutualisme. Kemudian dari situ ternyata pemimpin-pemimpin kita sendiri yang haus akan kekayaan dan jabatan yang lambat laun sebenarnya memecah persaudaraan Nusantara sehingga hal itu bisa dirasakan hingga saat ini. Sesungguhnya kita bisa belajar banyak dari Sejarah bangsa ini.

Kiranya sekian tulisan pertama untuk Review Psikologi Industri #1 ini saya buat, mohon maaf jika ada salah penulisan, ucapan meskipun seolah tak terucap, yang tak berkenan. Sampai jumpa di postingan saya selanjutnya semoga bermanfaat. Saya Ismi dan segenap kru yang bertugas pamit undur diri, terima kasih.

Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh :)

No comments:

Post a Comment