Aku sedang bercerita kepada sahabat-sahabatku. Aku menceritakan banyak sekali hal, dari hal favoritku sampai dirimu. Ya, dirimu. Aku tahu sedikit tentangmu. Aku tahu tanggal, bulan, dan tahun kamu dilahirkan. Aku tahu nomor handphonemu. Aku tahu kamu kelas berapa. Aku tahu kamu suka sushi sepertiku. Aku tahu - aku tahu.
Ketika sahabat-sahabatku bercerita, tentang cowok yang mereka sukai, aku hanya diam dan tersenyum. Di pikiranku, hal-hal tentangmu lah yang terlintas. Aku memberi mereka masukkan, kritik dan saran. Tapi, ketika mereka bertanya siapa cowok yang aku suka, aku mendadak diam. Apa yang harus aku jawab?
Aku tidak mungkin membohongi mereka. Aku tahu, walaupun sakit, harus aku katakan. Aku menyukaimu, tapi itu dulu. Mereka sempat terkejut-terkejut, karena aku sudah berusaha melupakanmu. Mereka bertanya habis-habisan, aku hanya menjawab dengan senyuman.
Aku tetap tenang. Mereka bertanya segala macam, aku menjawab seadanya dengan tenang. Tapi mereka tahu, walaupun aku tersenyum dengan tenang, mereka tahu aku menangis di dalam. Hingga, mereka lelah bertanya, baru aku mengatakan yang sejujurnya. Jujur? Jujur akan perasaanku sendiri. Aku menangis, aku menyesal. Aku kesal pada diriku sendiri, pernah menyukaimu. Walaupun aku tahu, tidak akan mungkin kau menyukaiku.
Heh, memalukan sekali ya, menangis di depan teman-temanku. Aku memang cengeng, dikit-dikit nangis. Haha, sudah biasa. Kuputar lagi kenangan-kenanganmu. Dimana kau membuatku tertawa, menangis, senyum, marah. Tapi kau sendiri menganggapku apa?
Aku merasa, kau seperti terpaksa menemaniku. Kau terpaksa chatting denganku. Dari kata-katamu, aku dapat merasakannya. Aku adalah perasa yang kuat. Aku juga sedikit sensitif. Aku bisa langsung mengetahui permasalahannya. Otakku bekerja dengan logika. Aku merasakannya, kau tidak nyaman bila chatting denganku.
Aku mulai berusaha melupakanmu. Dua sahabat baikku, mendukung dalam hal itu. Tepat di saat aku akan memutuskannya, sahabatku yang ketiga, mengaku satu hal kepadaku.
"Hei, kamu tau nggak? Aku, sebenernya masih naksir dia lho."
Kalimat itu, kalimat yang sahabatku ucapkan. Kalimat yang membuatku ternganga. Kalimat yang menusukku. Kalimat yang membuat otakku kosong selama beberapa saat. Sampai sekarang masih terbayang kata-katanya. Ia meminta maaf kepadaku, karena ia merasa ia telah menganggu hubunganku denganmu. Aku tersenyum lemah, sambil berusaha menahan tangis. Aku tidak mau terlihat cengeng di depan orang tuaku.
Aku memutuskan untuk mendukung sahabatku itu mengatakannya padamu. Dan apa yang ia katakan? Ia mengatakan, bahwa kamu menanyakannya kalau ia suka dengan siapa. Aku terkejut, lalu diam sebentar. Aku menyuruh sahabatku untuk mengaku kepadamu bahwa ia menyukaimu.
Ia - sahabatku mengatakannya. Tapi, kemudian ia mengatakan beberapa hal- lagi-lagi membuatku terkejut. Ternyata ia berkata, bahwa kau pernah menyukainya dulu. Aku tidak tahu, bagaimana perasaanku. Aku sudah merasa kosong apabila denganmu, aku sudah tidak merasa marah lagi bila kau tidak menyapaku. Tapi tetap saja, rasa khawatir ini masih ada. Dan anehnya, setiap melihat namamu, aku langsung sedih dan marah lagi.
Aku mendukung sahabatku ini, walaupun entah kenapa hatiku yang paling dalam, menolaknya. Tapi, entah kenapa tiba-tiba sahabatku itu sepertinya marah kepadaku. Aku, tidak tahu harus berbuat apa. Aku, juga hanya mengucapkan sedikit kata kepadamu. Sejak itu, kita bertiga tidak pernah ngobrol lagi.
Aku merasa seperti pengganggu diantara hubungan kalian. Aku tidak pantas berada di dekat kalian, kalian cocok dalam segala hal. Akhirnya aku menyadari satu hal. Aku harus mundur dengan terhormat. Aku meminta maaf kepada kalian berdua, melalui cerita bodoh ini. Aku benar-benar meminta maaf, dari lubuk hatiku. Pelan-pelan aku harus menyelesaikan masalah ini.
Aku berusaha untuk tidak menyapamu. Mungkin kau mengira aku sombong, atau sebangsanya. Tapi rencanaku harus berjalan lancar. Ya, harus. Aku memulai dengan, bersikap acuh kepadamu. Kubuat kata-kata lembutku menjadi judes dan kasar. Dan syukurlah, kau marah denganku. Rencanaku berjalan mulus. Kau maupun aku tidak pernah saling menyapa lagi. Lagi-lagi berjalan sesuai yang aku harapkan. Perlahan-lahan namun pasti, hatiku kosong. Siap untuk membuka lembaran baru.
Aku yakin, aku bisa melewati semua ini. Rencanaku tidak boleh gagal sama-sekali. Ke tahap berikutnya. Aku memberi tahu mantan pacarmu beberapa hal. Seperti, aku sudah tidak menyukaimu lagi. Aku juga meminta maaf kepadanya, karena aku merasa aku telah merebutmu darinya. Aku menceritakan sedikit hal kecil kepadanya. Kuharap ia memaafkanku, dengan tulus.
Aku, bersyukur pernah menyukaimu. Aku jadi tahu betapa sulitnya cinta itu. Ternyata, cinta itu susah dijabarkan dengan kata-kata. Cinta itu dirasakan, bukan dipahami seperti kamus tebal. Cinta itu abadi. Cinta itu obat dari segala hal. Walaupun cinta tidak selalu manis, tapi dengan cinta kita bisa mengubah semua hal. Seperti apel busuk, walaupun dibenci dan tidak disukai manusia, kenyataannya masih saja ada ulat yang mau tinggal bukan? Bagi manusia itu adalah sampah, bagi ulat adalah makanan. Aku banyak belajar dari cinta. Betapa manisnya, kenangan-kenangan cinta, juga betapa pahitnya kenyataan cinta. Karena itu, aku bersyukur pernah menyukaimu
Ketika sahabat-sahabatku bercerita, tentang cowok yang mereka sukai, aku hanya diam dan tersenyum. Di pikiranku, hal-hal tentangmu lah yang terlintas. Aku memberi mereka masukkan, kritik dan saran. Tapi, ketika mereka bertanya siapa cowok yang aku suka, aku mendadak diam. Apa yang harus aku jawab?
Aku tidak mungkin membohongi mereka. Aku tahu, walaupun sakit, harus aku katakan. Aku menyukaimu, tapi itu dulu. Mereka sempat terkejut-terkejut, karena aku sudah berusaha melupakanmu. Mereka bertanya habis-habisan, aku hanya menjawab dengan senyuman.
Aku tetap tenang. Mereka bertanya segala macam, aku menjawab seadanya dengan tenang. Tapi mereka tahu, walaupun aku tersenyum dengan tenang, mereka tahu aku menangis di dalam. Hingga, mereka lelah bertanya, baru aku mengatakan yang sejujurnya. Jujur? Jujur akan perasaanku sendiri. Aku menangis, aku menyesal. Aku kesal pada diriku sendiri, pernah menyukaimu. Walaupun aku tahu, tidak akan mungkin kau menyukaiku.
I want to face you, but I can't be honest
Do you love me? Or not love me?
As for things like that, it's already fine either way
Heh, memalukan sekali ya, menangis di depan teman-temanku. Aku memang cengeng, dikit-dikit nangis. Haha, sudah biasa. Kuputar lagi kenangan-kenanganmu. Dimana kau membuatku tertawa, menangis, senyum, marah. Tapi kau sendiri menganggapku apa?
Aku merasa, kau seperti terpaksa menemaniku. Kau terpaksa chatting denganku. Dari kata-katamu, aku dapat merasakannya. Aku adalah perasa yang kuat. Aku juga sedikit sensitif. Aku bisa langsung mengetahui permasalahannya. Otakku bekerja dengan logika. Aku merasakannya, kau tidak nyaman bila chatting denganku.
No matter how I wish
There are many unchangeable things in this world, right?
That's right, and because only the fact of my loving you
Is the truth unchangeable by anyone
Aku mulai berusaha melupakanmu. Dua sahabat baikku, mendukung dalam hal itu. Tepat di saat aku akan memutuskannya, sahabatku yang ketiga, mengaku satu hal kepadaku.
"Hei, kamu tau nggak? Aku, sebenernya masih naksir dia lho."
Kalimat itu, kalimat yang sahabatku ucapkan. Kalimat yang membuatku ternganga. Kalimat yang menusukku. Kalimat yang membuat otakku kosong selama beberapa saat. Sampai sekarang masih terbayang kata-katanya. Ia meminta maaf kepadaku, karena ia merasa ia telah menganggu hubunganku denganmu. Aku tersenyum lemah, sambil berusaha menahan tangis. Aku tidak mau terlihat cengeng di depan orang tuaku.
Aku memutuskan untuk mendukung sahabatku itu mengatakannya padamu. Dan apa yang ia katakan? Ia mengatakan, bahwa kamu menanyakannya kalau ia suka dengan siapa. Aku terkejut, lalu diam sebentar. Aku menyuruh sahabatku untuk mengaku kepadamu bahwa ia menyukaimu.
Ia - sahabatku mengatakannya. Tapi, kemudian ia mengatakan beberapa hal- lagi-lagi membuatku terkejut. Ternyata ia berkata, bahwa kau pernah menyukainya dulu. Aku tidak tahu, bagaimana perasaanku. Aku sudah merasa kosong apabila denganmu, aku sudah tidak merasa marah lagi bila kau tidak menyapaku. Tapi tetap saja, rasa khawatir ini masih ada. Dan anehnya, setiap melihat namamu, aku langsung sedih dan marah lagi.
Aku mendukung sahabatku ini, walaupun entah kenapa hatiku yang paling dalam, menolaknya. Tapi, entah kenapa tiba-tiba sahabatku itu sepertinya marah kepadaku. Aku, tidak tahu harus berbuat apa. Aku, juga hanya mengucapkan sedikit kata kepadamu. Sejak itu, kita bertiga tidak pernah ngobrol lagi.
Aku merasa seperti pengganggu diantara hubungan kalian. Aku tidak pantas berada di dekat kalian, kalian cocok dalam segala hal. Akhirnya aku menyadari satu hal. Aku harus mundur dengan terhormat. Aku meminta maaf kepada kalian berdua, melalui cerita bodoh ini. Aku benar-benar meminta maaf, dari lubuk hatiku. Pelan-pelan aku harus menyelesaikan masalah ini.
Aku berusaha untuk tidak menyapamu. Mungkin kau mengira aku sombong, atau sebangsanya. Tapi rencanaku harus berjalan lancar. Ya, harus. Aku memulai dengan, bersikap acuh kepadamu. Kubuat kata-kata lembutku menjadi judes dan kasar. Dan syukurlah, kau marah denganku. Rencanaku berjalan mulus. Kau maupun aku tidak pernah saling menyapa lagi. Lagi-lagi berjalan sesuai yang aku harapkan. Perlahan-lahan namun pasti, hatiku kosong. Siap untuk membuka lembaran baru.
Aku yakin, aku bisa melewati semua ini. Rencanaku tidak boleh gagal sama-sekali. Ke tahap berikutnya. Aku memberi tahu mantan pacarmu beberapa hal. Seperti, aku sudah tidak menyukaimu lagi. Aku juga meminta maaf kepadanya, karena aku merasa aku telah merebutmu darinya. Aku menceritakan sedikit hal kecil kepadanya. Kuharap ia memaafkanku, dengan tulus.
Aku, bersyukur pernah menyukaimu. Aku jadi tahu betapa sulitnya cinta itu. Ternyata, cinta itu susah dijabarkan dengan kata-kata. Cinta itu dirasakan, bukan dipahami seperti kamus tebal. Cinta itu abadi. Cinta itu obat dari segala hal. Walaupun cinta tidak selalu manis, tapi dengan cinta kita bisa mengubah semua hal. Seperti apel busuk, walaupun dibenci dan tidak disukai manusia, kenyataannya masih saja ada ulat yang mau tinggal bukan? Bagi manusia itu adalah sampah, bagi ulat adalah makanan. Aku banyak belajar dari cinta. Betapa manisnya, kenangan-kenangan cinta, juga betapa pahitnya kenyataan cinta. Karena itu, aku bersyukur pernah menyukaimu
Even if I'm hurt, I can say "I love you" to the person who I love
Even if those thoughts aren't fulfilled, I can say "I love you" to the person who I love
It's the most wonderful thing in this world
No comments:
Post a Comment