Kenapa sih, kamu terus muncul dipikiranku? Aku udah berusaha, bener-bener berusaha. Aku mulai melupakanmu. Itu yang terbaik. Tapi kenapa kamu terus muncul? Please, let me free. Aku capek-aku gak kuat lagi. Aku selalu shock, kalo melihat atau mendengar namamu.
Apalagi tadi. Aku gak sengaja melihatmu di kantin. Aku tadinya ingin menyapa kakakmu, tapi tidak jadi. Karena ada kamu. Lalu aku beranjak menuju tempat minuman. Aku membeli teh botol yang besar, aku tidak sengaja membelinya. Pikiranku kacau, yang aku pikirkan malah dirimu. Harusnya aku beli kemasan kecil, tapi aku malah membeli yang besar.
YaAllah, ada apa sih denganku ini? Kok aku salah tingkah ketika melihatmu. Dan apalagi ini? Kamu berada di sebelahku ketika aku membeli minuman, membuat jantungku berdetak tidak karuan. Mukaku hmm- syukurlah tidak merona. Kenapa? Kenapa hati ini menjadi perih lagi?
Perih di hatiku muncul lagi. Karena begitu melihatmu, kenanganku bersamamu menerobos keluar dari dinding pertahanan di kepalaku. Kalau aku bisa berteriak tadi, aku akan berteriak. Tapi mulutku tertahan sesuatu, sesuatu yang menyesakkan.
Ada lagi. Hal yang membuatku kaget setengah mati tadi. Kamu menginjak kakiku! Wow, memang tidak begitu sakit, tapi kau pergi tanpa mengatakan apapun, kembali tertawa bersama teman-temanmu. Seolah tidak terjadi apa-apa. Ah? Mungkin kau tidak menyadariku. Aku menyerah. Kurasa aku malah makin menyukaimu.
Ternyata, aku masih belum bisa melupakanmu. Karena tadi- aku ulangi. Semua kenanganku tentangmu dan aku, kembali terulang. Aku ingin kita berteman lagi seperti semula. Aku ingin berada di sisimu, aku ingin menjadi temanmu.
Tapi aku takut.
Aku takut, dengan aku menjadi temanmu, hatiku akan berusaha menyukaimu lagi. Dengan keadaan yang sekarang, aku masih menyukaimu, akan mudah bagiku untuk benar-benar menyayangimu. yaAllaaaah, apa yang harus aku lakukan? Menjaga jarak denganmu, dengan hatiku tetap terluka seperti ini? Atau? Kembali berteman denganmu, tapi terus-menerus menahan rasa suka ini?
Aku benar-benar dilema. Aku stress. Aku bingung. Aku takut. Kumohon, aku- oke. Aku mengaku. Aku merindukanmu ketika kamu memanggil namaku. Dengan aksen tawamu itu, hatiku rasanya tenang. Tidak melihatmu sehari saja, membuat aku cemas. Ternyata, aku benar-benar menyayangimu.
Aku pernah bermimpi. Aku tiduran di sofa, dan dibawah sofa itu ada kasur lagi. Yang tidur di bawah itu adalah kamu dan beberapa teman kita lagi. Teman semasa SD dulu. Kelas 6. Kita bermain kartu sampai larut malam, juga tidur bersama. Tapi mimpi ini spesial, karena kamu berteriak memanggil namaku. Ketika aku bangun, aku menangis. Alangkah menyenangkannya bila mimpi itu sungguhan.
I miss the time we spend it together on chatting board. Bayang-bayangmu selalu muncul di benakku ketika melihat namamu, mendengar suaramu, juga melihatmu di sekolah. Hatiku berdegup kencang. Betapa susahnya aku menyembunyikan perasaanku. Aku ingat, terakhir kalinya kamu berbicara denganku, ketika kamu mengirim pesan yang dikirim untuk semua contactmu, aku marah. Sebenarnya, aku tidak marah. Aku hanya berpura-pura. Aku hanya ingin kamu marah kepadaku, sebal kepadaku, lalu melupakanmu. Mungkin mudah bagimu, tapi tidak bagiku.
Aku menyukaimu. Aku tidak ingin kamu pergi. Ketakutan, kebingungan dalam pandanganku. Aku menghitung semua perih yang kurasa. Walau tubuh ini terpaku tidak bergerak. Aku ingin bersama denganmu lagi, aku ingin kembali tertawa denganmu. Suara serak yang berteriak, menggemetar ruang di udara yang hampa. Semua kenanganmu, semua memoriku, berputar di kepalaku.
Ternyata selama ini, aku telah menipu diriku sendiri. Aku berkata pada diriku aku bisa melakukannya. Tipuan yang bagus. Tidak ada yang bisa menipu hatiku sendiri. Bodohnya aku, terlalu percaya akan kata-kataku sehingga melupakan hati kecilku yang bergerak keluar dari sarangnya.
Kutatap jendela kamarku, masih memikirkan kejadian tadi siang. Mataku sembab. Aku menangis lagi. yaAllah, betapa cengengnya aku ini? Aku memeluk bantalku. Lalu melemparkannya ke jendela. Aku kacau, aku lelah. Aku berharap kamu mengetahuinya. Yah, harapan yang mustahil. Aku ingin seseorang memelukku yang kacau begini dan bertanya "Ada apa? Ceritakan padaku."
Well, aku banyak menulis cerita tentangmu. Semua ada di bukuku. Salah satunya mungkin bisa aku kutip.
Aku masih bingung, mana yang harus aku pilih. Tapi, ya sudah. Semua aku serahkan pada kelanjutannya nanti. Yang jelas, satu hal. Aku masih menyayangimu. :")
I'm so tired of being here
Suppressed by all my childish fears
And if you have to leave
I wish that you would just leave
'Cause your presence still lingers here
And it won't leave me alone
Apalagi tadi. Aku gak sengaja melihatmu di kantin. Aku tadinya ingin menyapa kakakmu, tapi tidak jadi. Karena ada kamu. Lalu aku beranjak menuju tempat minuman. Aku membeli teh botol yang besar, aku tidak sengaja membelinya. Pikiranku kacau, yang aku pikirkan malah dirimu. Harusnya aku beli kemasan kecil, tapi aku malah membeli yang besar.
YaAllah, ada apa sih denganku ini? Kok aku salah tingkah ketika melihatmu. Dan apalagi ini? Kamu berada di sebelahku ketika aku membeli minuman, membuat jantungku berdetak tidak karuan. Mukaku hmm- syukurlah tidak merona. Kenapa? Kenapa hati ini menjadi perih lagi?
These wounds won't seem to heal
This pain is just too real
There's just too much that time cannot erase
Perih di hatiku muncul lagi. Karena begitu melihatmu, kenanganku bersamamu menerobos keluar dari dinding pertahanan di kepalaku. Kalau aku bisa berteriak tadi, aku akan berteriak. Tapi mulutku tertahan sesuatu, sesuatu yang menyesakkan.
Ada lagi. Hal yang membuatku kaget setengah mati tadi. Kamu menginjak kakiku! Wow, memang tidak begitu sakit, tapi kau pergi tanpa mengatakan apapun, kembali tertawa bersama teman-temanmu. Seolah tidak terjadi apa-apa. Ah? Mungkin kau tidak menyadariku. Aku menyerah. Kurasa aku malah makin menyukaimu.
When you cried I'd wipe away all of your tears
When you'd scream I'd fight away all of your fears
And I held your hand through all of these years
Ternyata, aku masih belum bisa melupakanmu. Karena tadi- aku ulangi. Semua kenanganku tentangmu dan aku, kembali terulang. Aku ingin kita berteman lagi seperti semula. Aku ingin berada di sisimu, aku ingin menjadi temanmu.
Tapi aku takut.
But you still have
All of me
Aku takut, dengan aku menjadi temanmu, hatiku akan berusaha menyukaimu lagi. Dengan keadaan yang sekarang, aku masih menyukaimu, akan mudah bagiku untuk benar-benar menyayangimu. yaAllaaaah, apa yang harus aku lakukan? Menjaga jarak denganmu, dengan hatiku tetap terluka seperti ini? Atau? Kembali berteman denganmu, tapi terus-menerus menahan rasa suka ini?
Aku benar-benar dilema. Aku stress. Aku bingung. Aku takut. Kumohon, aku- oke. Aku mengaku. Aku merindukanmu ketika kamu memanggil namaku. Dengan aksen tawamu itu, hatiku rasanya tenang. Tidak melihatmu sehari saja, membuat aku cemas. Ternyata, aku benar-benar menyayangimu.
You used to captivate me
By your resonating light
Now I'm bound by the life you left behind
Your face it haunts
My once pleasant dreams
Your voice it chased away
All the sanity in me
Aku pernah bermimpi. Aku tiduran di sofa, dan dibawah sofa itu ada kasur lagi. Yang tidur di bawah itu adalah kamu dan beberapa teman kita lagi. Teman semasa SD dulu. Kelas 6. Kita bermain kartu sampai larut malam, juga tidur bersama. Tapi mimpi ini spesial, karena kamu berteriak memanggil namaku. Ketika aku bangun, aku menangis. Alangkah menyenangkannya bila mimpi itu sungguhan.
I miss the time we spend it together on chatting board. Bayang-bayangmu selalu muncul di benakku ketika melihat namamu, mendengar suaramu, juga melihatmu di sekolah. Hatiku berdegup kencang. Betapa susahnya aku menyembunyikan perasaanku. Aku ingat, terakhir kalinya kamu berbicara denganku, ketika kamu mengirim pesan yang dikirim untuk semua contactmu, aku marah. Sebenarnya, aku tidak marah. Aku hanya berpura-pura. Aku hanya ingin kamu marah kepadaku, sebal kepadaku, lalu melupakanmu. Mungkin mudah bagimu, tapi tidak bagiku.
These wounds won't seem to heal
This pain is just too real
There's just too much that time cannot erase
Aku menyukaimu. Aku tidak ingin kamu pergi. Ketakutan, kebingungan dalam pandanganku. Aku menghitung semua perih yang kurasa. Walau tubuh ini terpaku tidak bergerak. Aku ingin bersama denganmu lagi, aku ingin kembali tertawa denganmu. Suara serak yang berteriak, menggemetar ruang di udara yang hampa. Semua kenanganmu, semua memoriku, berputar di kepalaku.
I've tried so hard to tell myself that you're gone
But though you're still with me
I've been alone all along
Ternyata selama ini, aku telah menipu diriku sendiri. Aku berkata pada diriku aku bisa melakukannya. Tipuan yang bagus. Tidak ada yang bisa menipu hatiku sendiri. Bodohnya aku, terlalu percaya akan kata-kataku sehingga melupakan hati kecilku yang bergerak keluar dari sarangnya.
Kutatap jendela kamarku, masih memikirkan kejadian tadi siang. Mataku sembab. Aku menangis lagi. yaAllah, betapa cengengnya aku ini? Aku memeluk bantalku. Lalu melemparkannya ke jendela. Aku kacau, aku lelah. Aku berharap kamu mengetahuinya. Yah, harapan yang mustahil. Aku ingin seseorang memelukku yang kacau begini dan bertanya "Ada apa? Ceritakan padaku."
I lost all faith
Inside me
Still I find myself without the will to
Free me from you
I'm a slave
Unhappy
Wanting oh so much for you to someday
See me
Well, aku banyak menulis cerita tentangmu. Semua ada di bukuku. Salah satunya mungkin bisa aku kutip.
"Tapi dalam memoriku, semua kenanganku dan kamu. Masih tersimpan, terjaga aman. Kadang aku tersenyum mengingatnya."
Aku masih bingung, mana yang harus aku pilih. Tapi, ya sudah. Semua aku serahkan pada kelanjutannya nanti. Yang jelas, satu hal. Aku masih menyayangimu. :")
I'm not afraid anymore, I'm not afraid anymore
No comments:
Post a Comment